Rabu, 27 Februari 2013

Kenapa Bos TI Perempuan Masih Langka?

Sheryl Sandberg, COO Facebook
Belum banyak perempuan yang sukses meniti karier hingga ke posisi puncak perusahaan. Hal ini bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga di Amerika, bahkan di seluruh dunia.

Kebanyakan perempuan menduduki posisi menengah ke bawah. Semakin tinggi level jabatan dalam perusahaan, semakin sedikit pula jumlah perempuan yang berada di sana. Padahal, menurut penelitian, perempuan punya sifat-sifat potensial sebagai pemimpin.

Menurut riset yang dilakukan oleh Helen Fisher, seorang ahli antropologi, penulis, sekaligus profesor di Rutgers University, pada dasarnya, perempuan memiliki sifat-sifat dasar untuk sukses sebagai pemimpin dan dalam berkarier. Kaum perempuan umumnya sabar, memiliki empati, dan multitasking. Mereka mampu mengerjakan beberapa hal sekaligus. Selain itu, perempuan juga punya bakat alami untuk menjalin jaringan dan bernegosiasi.

Sifat-sifat dan kemampuan itu memang tidak eksklusif hanya dimiliki perempuan. Banyak laki-laki juga memiliki sifat dan kemampuan yang sama. Hanya, perempuan cenderung lebih sering menunjukkannya.

Lalu, kenapa hanya sedikit perempuan yang mampu menduduki posisi puncak di perusahaan?

Budaya di masyarakat ikut memengaruhi pandangan orang tentang perempuan. Ini contoh yang sering kita lihat sehari-hari. Dalam keluarga, anak laki-laki biasanya dituntut untuk lebih maju dan lebih pintar dari anak perempuan. Hal ini juga terbawa ke lingkungan bisnis dan perusahaan.

Dalam perusahaan, pemimpin laki-laki dituntut untuk tegas. Namun, jika yang menunjukkan sikap tegas adalah pemimpin perempuan, kebanyakan orang akan menganggap dia agresif atau judes.

Sedikitnya jumlah perempuan yang sukses berkarier dan menjadi pemimpin rupanya juga meresahkan Chief Operating Officer Facebook Sheryl Sandberg. Hal ini bahkan menjadi alasannya menulis buku berjudul Lean In: Women, Work, and the Will to Lead. Lewat buku itu, Sandberg menggali isu karier dan kepemimpinan untuk menginspirasi kaum perempuan.

Sandberg tercatat dalam daftar 50 Wanita Paling Berpengaruh dalam Bisnis versi majalah Fortune. Dia juga masuk dalam daftar 100 Orang Paling Berpengaruh di Dunia versi majalah Time.

Dalam sebuah presentasi, Sandberg memaparkan hanya ada 21 CEO perempuan yang masuk dalam daftar Fortune 500. Fortune 500 adalah daftar yang berisi 500 perusahaan terbesar di AS. Padahal, 57 persen perempuan di AS adalah lulusan universitas dan dari persentase itu ada 63 persen yang memegang gelar master.

Dalam sebuah survei yang melibatkan 4.000 karyawan dari berbagai perusahaan besar, sebanyak 36 persen responden laki-laki menjawab ingin menduduki jabatan CEO. Sementara itu, hanya 18 persen perempuan yang menjawab serupa.

Ada apa dengan kaum perempuan? Kenapa banyak dari mereka biasa-biasa saja dalam karier? Menurut Sandberg, sudah saatnya perempuan membuktikan bahwa mereka memiliki kemampuan yang sama dengan kaum laki-laki.

Menurut studi yang dilakukan oleh perusahaan konsultan McKinsey, umumnya karyawan laki-laki mendapatkan promosi berdasarkan potensi mereka. Sementara itu, perempuan mendapatkan promosi berdasarkan hasil yang telah mereka capai.

Tampaknya memang ada kekurangan yang dimiliki oleh perempuan, menurut Sandberg. Rasa percaya diri yang dimiliki oleh perempuan tidak sebesar laki-laki. Kebanyakan laki-laki yang sukses akan mengatakan bahwa kesuksesan itu mereka capai karena bakat dan kemampuan mereka. Sementara itu, perempuan yang sukses biasanya mengatakan bahwa kesuksesan itu mereka raih karena mereka beruntung atau berkat bantuan dari orang lain.

Ketika gagal mengerjakan suatu tugas, kebanyakan laki-laki akan bilang hal itu karena mereka tidak tertarik dengan tugas itu. Adapun perempuan akan mengaku mereka gagal karena kurang mampu di bidang tersebut. Jadi, sebenarnya, perempuan lebih jujur, rendah hati, atau kurang percaya diri?

Nah, lewat bukunya, Sandberg ingin mengubah pandangan banyak orang, termasuk kaum perempuan sendiri, tentang apa saja yang dapat dilakukan oleh perempuan dalam dunia bisnis.

Kesimpulan akhirnya sebenarnya, keinginan maju atau tidak, menjadi pemimpin atau tidak, ada pada diri setiap orang, baik perempuan maupun laki-laki. Bicara soal kepemimpinan, yang utama bukanlah soal kekuasaan, melainkan soal apa yang dapat dilakukan oleh seseorang dengan kekuasaan yang dimilikinya. Hal-hal apa yang bisa dia lakukan untuk mengubah dan membantu orang lain? Jika dikaitkan dengan teknologi, perubahan apa yang bisa dilakukan oleh para pemimpin industri terkait untuk membantu banyak orang dengan teknologi yang mereka ciptakan?

Baik laki-laki maupun perempuan yang sukses berkarier dan menjadi pemimpin, yang penting dia memiliki komitmen terhadap pekerjaannya, lingkungan sekitarnya, dan orang-orang yang dipimpinnya.

0 komentar:

Posting Komentar